awuuwell – Anak yang suka menjahili teman tidak selalu memahami bahwa tindakannya membuat orang lain merasa terganggu, malu, takut, atau sakit hati. Orang tua perlu mencari tahu alasan di balik perilaku tersebut, menetapkan batas yang jelas, mengajarkan empati, dan menunjukkan cara bercanda maupun berinteraksi yang lebih appropriate. Jika perilaku dilakukan berulang kali dengan tujuan menyakiti atau melibatkan ketimpangan kekuatan, orang tua perlu lebih serius menanganinya karena perilaku tersebut dapat mengarah pada bullying.
Melihat anak bercanda dan bermain bersama teman tentu menyenangkan. Namun, situasinya berbeda ketika candaan berubah menjadi mengambil barang teman, mengejek, mendorong, menyembunyikan barang, memanggil dengan julukan yang tidak disukai, atau sengaja membuat temannya kesal. Orang tua mungkin bingung karena anak menganggap semuanya โcuma bercandaโ.
American Academy of Pediatrics (AAP) melalui HealthyChildren menyarankan orang tua segera bertindak jika melihat anak menyakiti, mempermalukan, atau mengucilkan anak lain. Anak membutuhkan bantuan untuk memahami batas, menghormati orang lain, dan menemukan cara berinteraksi yang tidak menyakiti.
Alasannya bisa berbeda pada setiap anak. Ada yang memang ingin bercanda tetapi belum memahami batas, ada yang ingin mendapatkan perhatian teman, sedang menguji aturan, meniru perilaku yang dilihatnya, atau belum mempunyai keterampilan sosial yang cukup untuk memulai interaksi dengan cara lain.
Karena itu, jangan langsung memberikan label โanak nakalโ. CDC menjelaskan bahwa perilaku anak dapat menjadi bentuk komunikasi dan kesempatan bagi orang tua untuk memahami apa yang sedang terjadi. Respons yang diberikan setelah suatu perilaku juga dapat membuat perilaku tersebut menjadi lebih atau kurang mungkin terulang.
Cobalah memperhatikan polanya. Apakah anak hanya menjahili satu teman? Apakah terjadi ketika ingin ikut bermain? Apakah ia melakukannya ketika ada banyak teman yang menonton? Context matters karena penyebab yang berbeda membutuhkan pendekatan yang berbeda pula.
1. Cari Tahu Dulu Apa yang Sebenarnya Terjadi

Ketika mendapat laporan bahwa anak menjahili temannya, hindari langsung memberikan hukuman sebelum memahami situasinya. Dengarkan penjelasan anak, tetapi jangan otomatis menganggap versinya sebagai satu-satunya fakta. Jika terjadi di sekolah, informasi dari guru dapat membantu memberikan gambaran yang lebih lengkap.
Gunakan pertanyaan netral seperti, โTadi apa yang terjadi?โ, โKamu melakukan apa?โ, atau โTemanmu bereaksi bagaimana?โ Hindari pertanyaan yang langsung menuduh seperti, โKenapa kamu jahat sama teman?โ karena anak mungkin menjadi defensif.
Tujuannya bukan mencari pembenaran, tetapi memahami rangkaian kejadian. Setelah mengetahui pemicunya, orang tua dapat membantu anak melihat pilihan perilaku lain yang sebenarnya bisa dilakukan.
2. Jelaskan Perbedaan Bercanda dan Menyakiti
Anak perlu memahami bahwa niat bercanda tidak otomatis membuat sebuah tindakan menjadi okay. Jika orang lain merasa takut, dipermalukan, kesakitan, atau sudah meminta berhenti tetapi candaan terus dilakukan, batasnya sudah berbeda.
Gunakan contoh konkret. Misalnya, โKalian sama-sama tertawa ketika bercanda itu berbeda dengan kamu tertawa sementara temanmu menangis.โ Penjelasan sederhana seperti ini lebih mudah dipahami dibandingkan hanya mengatakan, โPokoknya jangan jahil.โ
StopBullying.gov mendorong anak untuk berhenti dan berpikir sebelum mengatakan atau melakukan sesuatu yang dapat menyakiti orang lain. Anak juga perlu memahami bahwa setiap orang berbeda dan tetap harus diperlakukan dengan hormat.
3. Ajarkan Anak Membaca Respons Temannya

Social cues tidak selalu otomatis dipahami anak. Mereka perlu belajar memperhatikan ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan perkataan orang lain. Teman yang tiba-tiba diam, menjauh, menangis, atau mengatakan โstopโ sedang memberikan informasi penting.
Ajarkan aturan sederhana: kalau teman bilang berhenti, berhenti. Jangan menunggu teman sampai marah atau menangis. Anak perlu memahami bahwa menghormati batas merupakan bagian dari bermain bersama.
Orang tua dapat melakukan role-play di rumah. Pura-puralah menjadi teman yang barangnya diambil, kemudian tanyakan, โKalau wajah Mama seperti ini, kira-kira Mama senang atau kesal?โ Latihan sederhana membantu anak menghubungkan tindakan dengan perasaan orang lain.
4. Bantu Anak Mengembangkan Empati
Empati bukan hanya mengatakan, โKasihan temannya.โ Anak perlu belajar melihat situasi dari perspektif orang lain. Kemampuan tersebut bisa dilatih melalui percakapan sehari-hari.
Setelah terjadi masalah, tanyakan, โKalau mainan kamu disembunyikan terus kamu nggak bisa menemukannya, kamu bakal merasa bagaimana?โ Kemudian lanjutkan dengan, โMenurut kamu, tadi temanmu merasa seperti itu juga nggak?โ
AAP menganjurkan orang tua menggunakan disiplin positif yang mengajarkan tanggung jawab dan empati ketika menghadapi anak yang menyakiti atau mempermalukan teman. Orang tua juga disarankan menetapkan batas yang tegas terhadap perkataan dan tindakan yang menyakitkan.
5. Jangan Membalas dengan Mempermalukan Anak
Mengetahui anak menjahili teman bisa membuat orang tua embarrassed, terutama jika mendapat teguran dari guru atau orang tua lain. Namun, mempermalukan anak di depan orang lain bukan cara terbaik untuk mengajarkan empati.
Kalimat seperti โKamu memang selalu bikin masalahโ atau โMama malu punya anak seperti kamuโ menyerang identitas anak, bukan perilakunya. Fokuskan pembicaraan pada tindakan spesifik: โMengambil barang teman tanpa izin itu tidak boleh.โ
AAP menyarankan disiplin nonfisik yang tidak mendorong agresi serta membantu anak belajar tanggung jawab dan empati. Anak tetap perlu mendapatkan konsekuensi ketika melanggar aturan, tetapi konsekuensinya sebaiknya bertujuan mengajarkan perilaku yang lebih baik.
6. Terapkan Konsekuensi yang Logis dan Konsisten
Jika anak menggunakan mainan untuk mengganggu temannya, mainan tersebut bisa disimpan sementara. Jika anak terus mengganggu permainan kelompok meskipun sudah diperingatkan, ia dapat diminta berhenti dari permainan sejenak. Konsekuensi akan lebih mudah dipahami ketika berhubungan langsung dengan perilakunya.
CDC menjelaskan bahwa konsekuensi yang diberikan segera setelah perilaku membantu anak memahami hubungan antara tindakan dan akibatnya. Setelah konsekuensi selesai, orang tua sebaiknya kembali ke komunikasi positif dan memperhatikan perilaku baik yang ingin diperkuat.
Hindari ancaman yang tidak mungkin dilakukan. Kalau mengatakan sebuah konsekuensi akan terjadi jika perilaku diulang, orang tua perlu siap menjalankannya. Inconsistent consequences justru membuat batas menjadi membingungkan.
7. Ajarkan Cara Mengajak Teman Bermain
Kadang perilaku jahil sebenarnya merupakan cara anak mencari perhatian teman. Anak ingin ikut bermain tetapi tidak tahu bagaimana memulainya, sehingga memilih mengambil mainan, mengejar, atau mengganggu.
Berikan alternatif yang konkret. Ajarkan kalimat seperti, โAku boleh ikut?โ, โKita main bareng, yuk,โ atau โBoleh pinjam setelah kamu selesai?โ Untuk anak kecil, kalimat sederhana jauh lebih useful daripada instruksi abstrak seperti โKamu harus bersosialisasi dengan baik.โ
Lakukan role-play di rumah agar anak mempunyai kesempatan berlatih sebelum menghadapi situasi nyata. Orang tua bisa berpura-pura menjadi teman sementara anak mencoba meminta izin, bergiliran, atau mengajak bermain.
8. Berikan Pujian ketika Anak Bermain dengan Baik
Jangan hanya memberikan perhatian ketika anak membuat masalah. Ketika melihat ia berbagi mainan, menunggu giliran, membantu teman, atau berhenti ketika diminta, berikan perhatian positif saat itu juga.
CDC menyebut pujian spesifik membantu anak mengetahui perilaku apa yang dilakukan dengan benar. Dibandingkan hanya berkata โanak pintarโ, orang tua dapat mengatakan, โMama lihat kamu tadi mau bergantian main. Itu baik banget.โ
Positive reinforcement bukan berarti anak harus diberi hadiah setiap kali bersikap baik. Senyum, high-five, pelukan, dan pujian dapat menjadi social reward yang powerful. Tujuannya adalah membuat perilaku positif mendapatkan lebih banyak perhatian daripada perilaku jahil.
9. Ajarkan Anak Meminta Maaf dengan Benar
Setelah menyakiti teman, anak memang perlu belajar memperbaiki hubungan. Namun, memaksa anak mengatakan โmaafโ ketika ia belum memahami kesalahannya bisa membuat permintaan maaf berubah menjadi formalitas.
Bantu anak memahami terlebih dahulu apa yang terjadi. Setelah itu, dorong permintaan maaf yang spesifik, misalnya, โMaaf aku menyembunyikan pensil kamu. Aku nggak akan melakukannya lagi.โ StopBullying.gov juga menyarankan anak yang pernah menyakiti atau melakukan bullying kepada orang lain untuk meminta maaf.
Repair juga tidak selalu berhenti pada kata maaf. Jika anak merusak sesuatu, ia dapat membantu memperbaiki atau menggantinya. Jika mengambil barang, barang tersebut harus dikembalikan. Dengan begitu, anak belajar bahwa tindakan mempunyai tanggung jawab.
10. Orang Tua Harus Menjadi Role Model
Anak memperhatikan bagaimana orang dewasa memperlakukan orang lain. Jika candaan di rumah sering berupa mengejek fisik, mempermalukan anggota keluarga, atau menertawakan orang yang sedang kesal, anak bisa menangkap pesan bahwa perilaku tersebut acceptable.
AAP menyarankan orang tua memberikan contoh kindness dan toleransi dalam interaksi sehari-hari. Anak membutuhkan contoh nyata mengenai bagaimana berbeda pendapat, bercanda, dan menghadapi konflik tanpa merendahkan orang lain.
Coba evaluasi juga jenis humor di rumah. Bercanda boleh dan bahkan dapat mempererat hubungan, tetapi buat satu rule sederhana: funny for everyone, not just for one person. Kalau hanya satu orang yang tertawa sementara yang lain merasa dipermalukan, mungkin itu bukan candaan yang sehat.
Untuk anak kecil, aturan sebaiknya pendek dan mudah dipahami. Contohnya, โTangan digunakan dengan lembutโ, โTidak mengambil barang tanpa izinโ, atau โKalau teman bilang stop, kita berhenti.โ
CDC menyebut aturan keluarga membantu anak memahami perilaku yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Aturan bekerja lebih baik ketika disampaikan dengan jelas, diterapkan secara konsisten oleh pengasuh, dan disertai konsekuensi ketika dilanggar serta pujian ketika dipatuhi.
Tidak perlu membuat 20 aturan sekaligus. Untuk toddler dan preschooler, CDC menyebut dua sampai tiga aturan dalam satu waktu lebih mudah dipelajari dan diingat. Fokus dulu pada perilaku yang paling penting.
Apakah Anak yang Suka Jahil Berarti Melakukan Bullying?

Belum tentu. Istilah bullying sebaiknya tidak digunakan untuk setiap konflik, candaan yang kelewatan, atau pertengkaran antarteman. Namun, perilaku menyakiti yang dilakukan secara berulang dan melibatkan ketimpangan kekuatan perlu mendapatkan perhatian lebih serius.
Jika anak terus mengejek, mempermalukan, mengucilkan, atau menyakiti teman tertentu, jangan menganggapnya sebagai โnamanya juga anak-anakโ. AAP menyarankan orang tua mengambil tindakan segera ketika mengetahui anak menyakiti, mempermalukan, atau mengucilkan orang lain.
Cari tahu pula apa yang mendorong perilaku tersebut. AAP menyebut sebagian anak yang melakukan bullying mungkin membutuhkan bantuan untuk menghadapi masalah atau pengalaman yang sedang mereka alami. Jika ada kekhawatiran mengenai trauma, emosi, atau perilaku, konsultasi dengan dokter anak atau profesional kesehatan mental dapat dipertimbangkan.
Kerja Sama dengan Guru jika Terjadi di Sekolah
Jika kejadian berulang di sekolah, komunikasi dengan guru sangat penting. Hindari datang hanya untuk membela anak atau sebaliknya langsung menyalahkannya. Fokus pada fakta dan solusi.
Tanyakan kapan perilaku biasanya terjadi, siapa yang terlibat, bagaimana respons teman, dan apa yang sudah dilakukan sekolah. Informasi tersebut dapat membantu orang tua melihat pola yang tidak muncul di rumah.
Setelah itu, sepakati target sederhana bersama guru. Misalnya, anak berlatih meminta izin sebelum mengambil barang atau menjaga tangan tetap pada dirinya sendiri ketika bermain. Konsistensi antara rumah dan sekolah membuat pesan yang diterima anak menjadi lebih clear.
Jangan Paksa Anak dan Korban Langsung Berteman
Setelah terjadi konflik, target utama bukan membuat kedua anak langsung menjadi best friend. Yang lebih penting adalah menghentikan perilaku menyakitkan, memperbaiki kerugian jika memungkinkan, dan memastikan batas masing-masing dihormati.
Anak yang dijahili juga berhak menentukan apakah ia sudah nyaman kembali bermain bersama. Permintaan maaf tidak otomatis membuat orang lain harus langsung memaafkan atau kembali dekat. Ini juga merupakan pelajaran penting mengenai boundaries.
Ajarkan anak bahwa meminta maaf adalah tanggung jawab atas tindakannya, bukan transaksi untuk mendapatkan respons tertentu. Setelah meminta maaf, tugas berikutnya adalah menunjukkan perubahan melalui perilaku.
Pertimbangkan meminta bantuan jika perilaku agresif atau menyakiti teman terus berulang meskipun sudah diberikan batas yang konsisten. Bantuan juga penting jika perilaku semakin berat, terjadi di banyak lingkungan, melibatkan kekerasan, atau menyebabkan anak mengalami masalah serius di sekolah dan pertemanan.
Orang tua juga dapat berdiskusi dengan guru, konselor sekolah, dokter anak, atau profesional kesehatan mental untuk mencari kemungkinan faktor yang mendasarinya. Tujuannya bukan memberikan label โanak bermasalahโ, tetapi memahami keterampilan atau dukungan apa yang masih dibutuhkan.
Perubahan perilaku membutuhkan waktu. CDC menekankan pentingnya konsistensi, prediktabilitas, dan follow-through dalam membantu anak memahami aturan dan konsekuensinya.
Mengatasi anak yang suka menjahili teman tidak cukup dengan mengatakan, โJangan nakal.โ Orang tua perlu membantu anak memahami apa yang salah, bagaimana perasaan orang lain, dan apa yang seharusnya dilakukan sebagai gantinya. Empati, keterampilan sosial, dan kemampuan mengendalikan perilaku merupakan sesuatu yang dapat dipelajari.
Tetapkan batas yang tegas terhadap tindakan menyakiti, gunakan konsekuensi yang logis dan konsisten, serta berikan perhatian positif ketika anak bersikap baik kepada teman. Jika perilaku berubah menjadi tindakan menyakiti atau mengucilkan yang berulang, jangan menganggapnya sekadar bercanda dan libatkan sekolah atau tenaga profesional bila diperlukan.
Pada akhirnya, targetnya bukan membuat anak takut melakukan kesalahan. Targetnya adalah membantu anak memahami bahwa bercanda boleh, tetapi menghormati perasaan dan batas orang lain tetap menjadi prioritas.
Referensi
- American Academy of Pediatrics โ HealthyChildren.org. Why Bullying Hurts All Childrenโand What Parents Can Do About It.
- StopBullying.gov. What Kids Can Do โ Treat Everyone with Respect.
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Tips for Responding to Behavior. Diperbarui April 2026.
- CDC. Tips for Using Praise and Rewards. Diperbarui April 2026.
- CDC. Tips for Using Consequences.
- CDC. Tips for Creating Rules. Diperbarui April 2026.




